biruvoice.com - Menambah Wawasan, Menghadirkan Keindahan

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Hot Update

Statement BIRU Voice sekitar 2 bulan yang lalu tentang pencemaran di celah Timor akibat kebocoran ladang minyak Montara, baru sekarang ditanggapi Preisden SBY. BIRU Voice mengharapkan pemerintah dapat membentuk Tim Independen yang tidak terkendala oleh birokrasi dan kepentingan politik, melainkan sungguh-sungguh dapat melakukan investigasi dan langkah-langkah yang cepat untuk membantu rakyat yang terkena akibat secara langsung.

 

Berita terkait:

Ketakutan yang Berbuah Juara

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Putut Saputro, Pemuda Pro Hijau

Muda, ganteng, pintar, tetapi rendah hati, itulah kesan pertama yang diperoleh BIRU VOICE ketika berbincang-bincang dengan Putut Saputro. Dia adalah juara I tingkat nasional lomba Pemuda Pro Hijau 2009 yang diselenggarakan oleh perusahaan rokok Sampoerna Hijau.

Pemuda Pro Hijau adalah salah satu kategori yang dilombakan dalam hajatan besar bertajuk Kotaku Hijau. Kategori lainnya adalah Taman Kota, Gotong-Royong Kebersihan, dan Rancang Bangun yang menggunakan bungkus rokok Sampoerna sebagai bahan baku. Putut dipilih sebagai pemenang I Pemuda Pro Hijau karena dewan juri menilai Putut cukup berhasil menggerakkan karang taruna yang ada di RW untuk peduli dan terlibat dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan.

“Yang kami nilai pertama-tama bukan pada berapa luas taman yang dihasilkannya, tapi bagaimana dia berhasil menggerakkan orang-orang muda untuk peduli dan terlibat. Nilai menggerakkan inilah yang memiliki arti penting bagi kami dan tentu saja bagi Indonesia ke depan,” ujar Prof. Hadi Susilo Arifin, salah satu dewan juri, tentang alasan mereka memilih Putut Saputro sebagai pemenang I.

Berawal dari Rasa Takut


Tapi tahukah bila semua itu bisa diraih Putut, justru berawal dari rasa takutnya? Ceritanya begini, di tempat tinggalnya, yaitu di RT 10 RW Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, terdapat sebuah jalan yang cukup ramai dilalui manusia. Bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang setiap harinya mengikuti kegiatan Pendidikan Usia Dini (PAUD) di RT setempat.

Masalahnya, di pinggir jalan tersebut, terdapat tumpukan kayu glondongan yang tingginya kira-kira 5 meter. Bagi pengguna jalan, situasi ini sangat berbahaya. Sebab, jika tumpukan kayu itu sempat saja amblas, maka sudah bisa dibayangkan bakal ada korban jiwa akibat ditimpa kayu-kayu besar tersebut. “Jangankan manusia, mobil aja bisa nggak berbentuk mas,” ujar Putut, sedikit tertawa.

Masalah berikutnya, pemilik kayu-kayu itu adalah sesepuh di kelurahan tersebut. Selain dia orang Betawi asli, juga terkenal cukup garang. “Saya sempat bingung bagaimana harus mengatakan agar kayu-kayu itu bisa dipindahkan. Saya takut dia marah, Mas,” ujar Putut.

Setelah berpikir keras, akhir dia dapat ide. Idenya adalah merayu pemilik kayu tersebut agar di lokasi tersebut dibuatkan taman. Selain indah untuk warga, tentu saja indah juga buat yang bersangkutan. Sebab letak taman tersebut tak jauh dari rumahnya.

Sebelum mengutarakan idenya tersebut, Putut konsultasi dulu dengan para orang tua dan karang taruna di RT-nya. Mereka semua setuju. Ide tersebut akhirnya disampaikan kepada pemilik kayu. Mesti tidak terlalu antusias, dia setuju. Tapi dengan catatan, hanya beberapa meter tanah saja. 

Jika hanya beberapa meter, kayu-kayu itu tetap saja menjadi ancaman. Tapi sebagai permulaan, Putut merasa ini sudah cukup. Maka diajaknyalah anak-anak muda setempat untuk mulai membuat taman. “Jujur saja mas, masalah cara membuat taman dan jenis tanamannya saya nggak ngerti. Teman-teman sayalah yang merancang semua itu. Tugas saya hanya memberi pengertian dan memotivasi mereka,” jelasnya.

Setelah beberapa meter taman selesai dibuat, dia kembali menghadap pemilik kayu dan mengatakan bahwa mereka akan memperluas taman tersebut. Tak lupa Putut memuji betapa rumah pemilik kayu tersebut semakin indah dengan kehadiran taman yang mereka buat. Tanpa sanggup menolak, pemilik kayu mengizinkan. Taman kembali diperluas.

“Jadi taman itu kami perluas sedikit demi sedikit hingga saat ini sudah mencapai 5 x 50 meter. Ada aneka tanaman di dalamnya, termasuk apotik hidup,” ujar alumni Unikom Bandung ini.

Lalu bagaimana dengan tumpukan kayunya? “Kami juga nggak tahu dipindahkan ke mana. Yang penting tumpukan kayu itu sudah nggak di situ lagi.”

Membuat Arisan

Putut mempunyai cara sederhana untuk mengumpulkan pemuda yang ada di RT-nya. Dia membuat kegiatan arisan bagi para anggota karang taruna. Arisan ini diselenggarakan sebulan sekali. Tak disangka, metode mengumpulkan pemuda semacam arisan ini, ternyata sangat efektif. Sebab setiap kali arisan, setidaknya 40-60 orang anggota muda-mudi pasti hadir. Dalam arisan inilah kemudian didiskusikan berbagai kegiatan positif yang bisa dilakukan oleh pemuda.

Salah satunya adalah membuat taman itu. Mereka juga bergotong royong dengan para orang tua untuk membuat taman-taman kecil di rumah masing-masing. “Kalau nggak punya lahan yang cukup, kami dorong agar tembok atau emperan rumah bisa dipakai untuk menempatkan bunga dalam pot,” ujar Putut. Karang taruna setempat juga mengupayakan pot-pot gratis yang dibagikan kepada keluarga-keluarga kurang mampu.

Selain mengurus masalah lingkungan hidup, Putut dan kawan-kawannya juga membantu berdirinya rumah taman bacaan bagi anak-anak.  Rumah taman bacaan tersebut mereka dirikan secara bergotong royong. Buku-bukunya merupakan sumbangan dari Ikatan Ibu-Ibu Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Dalam berdiskusi, Putut juga tak ingin mendominasi jalannya diskusi. Ia justru lebih banyak menantang dan mendengar usulan atau tanggapan yang diberikan oleh peserta arisan. Hal ini sengaja dia lakukan, agar para anggota karang taruna merasa keputusan yang dibuat hari itu adalah keputusan bersama. Bukan keputusan ketua karang taruna seorang. Dampaknya, program yang sudah dirancang, bisa dikerjakan bersama-sama.

Butuh Pendidikan

Menjadi juara I Pemuda Pro Hijau, tentu saja satu kebanggaan bagi dia. Namun Putut mengaku, dia tak mau hanya berhenti di situ. Dia ingin menjadi duta lingkungan hidup, agar semangat yang ada dalam dirinya, bisa ia bagikan juga bagi pemuda-pemuda lainnya.

Tapi masalahnya, Putut mengaku ilmu lingkungan hidup yang dimilikinya masih sangat terbatas. Untuk itu dia sangat berharap pemerintah maupun NGO ada yang mau menyelenggarakan pendidikan singkat tentang lingkungan hidup.

“Misalnya ilmu tentang biopori, composing, tanaman, sanitasi, dan lain-lain sangat saya butuhkan. Dengan bekal ilmu tersebut, saya berharap bisa menjadi duta lingkungan hidup,” tegas Putut. (Celestino Reda)

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Berita Sosok Ketakutan yang Berbuah Juara

Copyright © 2007-2010 www.biruvoice.com. All Right Reserved. Designed by Nur Cholikul Anwar.