Nama Tri Mumpuni tidaklah asing bagi masyarakat Indonesia dan mungkin dunia sekarang ini. Namanya muncul seiring dengan keprihatinannya ketika melihat kondisi rakyat pedesaan yang seolah tidak mengenal peradaban. Puni (panggilan akrabnya) memang seringkali jalan-jalan ke pedesaan seperti Jawa Barat, Kalimantan, dan lainnya.
Puni pun terketuk hatinya ketika melihat secara langsung kehidupan yang berlangsung di pedesaan. Puni yang melihat kehidupan di pedesaan sungguh mencemaskan. Bagaimana tidak kalau di desa tersebut belum mendapat aliran listrik. Kita bisa dibayangkan betapa gelapnya ketika malam sudah tiba.
Tetapi seketika itu Puni juga sadar. Bahwa desa yang belum mendapat aliran listrik bisa saja terjadi karena memang amat sangat terpencil. Sebutlah Dusun Palanggaran dan Cicemet, enclave di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Untuk bisa sampai ke sana tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Jangan roda empat, roda dua pun terasa amat sangat sulit.
Menuju ke tempat tersebut tidak boleh tidak harus berjalan kaki selama 9 jam. Bisa juga naik motor roda dua tetapi rodanya harus diberi rantai. Jika tidak sangat mustahil bisa sampai ke desa terpencil tersebut. Pasalnya, jalan hanya setapak, itu pun licin.
Ketika melihat secara langsung, seketika itu Puni terketuk hatinya untuk membangun aliran listrik untuk menerangi dusun tersebut. Puni pun berusaha mencari jalan keluarnya. Melalui IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada 17 Agustus 1992 bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Puni mulai menyusun strategi jalan keluarnya.
Dengan proposal, Puni "berjualan" konsep. Dalam proposal terdapat rencana teknik dan rencana anggaran biaya. Proposal tersebut dibawa ke mana-mana termasuk kedutaan besar. Ternyata proposal tersebut banyak mendapat sambutan dari Kedutaan Besar Jepang.
"Kami memang tidak pernah menggunakan dana Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) karena sistem APBN tidak mengakomodasi proses pemberdayaan masyarakat. Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 mengharuskan adanya tender. Tidak mungkin rakyat kecil mengakses," ujar Tri Mumpuni.
Bangun Kesadaran
Ketika sudah mendapatkan dana, Puni mulai mendatangi kembali desa/dusun tersebut. Awal mula Puni bersama suaminya bertemu dengan tokoh masyarakat setempat dan mengutarakan maksud dan tujuannya. Ketika terjadi kesepakatan Puni mulai bekerja.
Pertama kali yang dilakukan Puni dan suaminya adalah membangun kesadaran tentang pentingnya penerangan bagi kehidupan. Ia menyadarkan mereka (masyarakat) bahwa pembangkit listrik itu milik mereka dan karena itu mereka harus memeliharanya dengan baik bukan hanya turbinnya tetapi juga kontinuitas aliran air sepanjang tahun.
Dalam membangun kesadaran Puni melakukannya di semua tempat. Kalau masyarakatnya terdiri dari orang-orang Kristiani, maka tempatnya di gereja. Sebaliknya, kalau masyarakatnya terdiri dari komunitas Muslim, maka tempatnya di masjid. Bahkan bisa pula di rumah adat seperti di Kalimantan.
Setelah kesadaran terbentuk, Puni dan suaminya kemudian membentuk tim. Tujuannya tidak lain agar jika sudah terbangun pembangkit listrik ada yang bertanggung jawab terhadap kelestariannya. Tim ini pula yang terus-menerus memantau jalannya mesin microhydro (turbin) tersebut dan jalannya air sepanjang tahun.
Selain itu, tim ini juga bertanggung jawab atas biaya yang...
Â
Tim ini pula yang terus-menerus memantau jalannya mesin microhydro (turbin) tersebut dan jalannya air sepanjang tahun.
Pertama kali yang dilakukan Puni dan suaminya adalah membangun kesadaran tentang pentingnya penerangan bagi kehidupan.
Â
...harus dibayar pelanggan sebagai dana abadi dan dana itu untuk memelihara pembangkit listrik itu. Karena itu, Puni dan suaminya membentuk ketua, bendahara, sekretaris, sampai orang yang bisa bongkar-pasang mesin sebagai operator.
Ternyata mereka sangat antusias dengan arahan dan rencana pembangunan tersebut. Setelah mereka mahir mengoperasikannya, Puni dan suaminya secara perlahan-lahan mulai meninggalkan desa tersebut untuk kemudian mencari desa terpencil lain yang belum mendapat aliran listrik.
Desa Krueng Kala, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar merupakan salah satu sekian banyak yang berhasil diterangi listrik oleh Puni dan suaminya. Masyarakat desa ini tidak sedikit pun menyumbang untuk listrik tersebut. Begitu juga Puni dan suaminya. Masyarakat desa Krueng Kala Aceh Besar tersebut mendapat aliran listrik berkat lembaga swadaya internasional yang membantunya dengan proyek Cash for Work. Orang dibayar Rp 50.000-100.000 sehari untuk mengangkut batu dan membersihkan sampah di rumah mereka sendiri.
Berbeda dengan desa Krueng Kala, dusun Palanggaran di Sukabumi tempat awal Puni berkarya, sama sekali tidak mendapat bantuan dari manapun. Awalnya masyarakat masih susah dimintai iuran. Namun setelah enam bulan berlalu, Puni kembali lagi ke Dusun Palanggaran. Hal tak disangka pun terjadi. Di desa tersebut sudah memiliki kas sebesar Rp 23 juta. "Padahal, sebelumnya sulit sekali menentukan uang langganan karena mereka merasa tidak punya uang," kenang Puni.
Lalu yang menakjubkan lagi, ada aturan baru desa yang melarang menebang pohon apa pun dalam jarak 50 meter di kiri dan kanan sungai. Mereka pun menanam pohon buah-buahan supaya bisa dapat hasil dari buah itu.
Hingga sekarang Puni dan suaminya sudah menerangi 60 lokasi dengan tenaga microhydronya. Bagi alumnus IPB ini listrik bukan tujuan utamanya, tetapi bagaimana membangun potensi desa supaya mereka berdaya secara ekonomi dan lainnya. Dengan begitu, mereka bisa mengenali peradabannya dan membangun peradabannya.
Berkat belas kasih dan konsernya Puni sudah mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah dan lembaga internasional, seperti Climate Hero dari World Wildlife Fund for Nature (2005), Fellow Ashoka (2006), tokoh Pengembangan Energi Terbarukan dan Penghematan Energi (2007), dan Pendekar Lingkungan Hidup RI (2008).
Semoga ada Tri Mumpuni lain yang berkomitmen terhadap desa terpencil. Selamat kepada Tri Mumpuni dan suaminya, anak bangsa yang akan mengenangmu sepanjang masa. (Yanto Bashri )















Ngorok atau mendengkur saat tidur tak cuma mengurangi kualitas tidur. Berbagai penelitian mengaitkannya dengan risiko tekanan darah tinggi, bahkan penelitian terbaru membuktikan bahwa ngorok meningkatkan risiko kematian akibat kanker.

Bagi murid sekolah, sarapan pagi sangat penting karena bisa mempengaruhi prestasi belajar. Menurut penelitian, murid yang tak pernah lupa sarapan saat mau berangkat sekolah prestasinya lebih tinggi dibandingkan yang tidak sarapan.
Seks itu idealnya spontan, namun kadang jadwalnya perlu disesuaikan dengan siklus masa subur khususnya saat sedang menginginkan kehamilan. Yang penting tidak usah terlalu kaku, sebab disiplin yang belebihan malah bisa bikin impoten.
Karena bersin-bersin cuma dianggap sepele, banyak orang tetap nekat mengendarai mobil atau motor saat mengalaminya. Polisi Inggris tidak mau ambil risiko, pengendara mobil atau motor yang kedapatan bersin-bersin bisa dikenai tilang.
Semakin meluasnya jenis orientasi seksual mendorong perlunya memiliki "gaydar" (gay radar). Gaydar adalah istilah yang dipakai luas untuk kemampuan menilai orientasi seksual orang lain dengan cepat. Bahkan beberapa orang memang benar-benar memiliki kemampuan unik ini.

Comments
Kalo boleh tahu dimana alamat sekarang?
Thanks for this ..
If your friends have a problem about THIS
orang seperti inilah ..yang sesuai untuk wakil rakyat...
mengerti keluh kesah masyarakat terpencil.....
mampu memecahkan masalah.. dengan menggunakan sumber daya yang ada..
Smoga wakil-wakil rakyatku bisa sseperti beliau (Ibu Puni & Suami)
sosok yg harus masyarakat pilih untuk menjadi PEMIMPIN...
salutttt untuk mba Puni
mudah2 han ibu dan bapak bisa menjadi contoh untuk kita2 semua bangsa indonesia , agar malu billa tidak berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara kita jg tercinta !
semoga Tuhan membalas segala kebaikan ibu......
RSS feed for comments to this post.