Selama puluhan bahkan ratusan tahun kita abai terhadap potensi laut. Konsep pembangunan kita selalu berorientasi daratan (continen). Cukup lama bangsa ini mengabaikan potensi kelautan. Kita menjadikan laut hanya sebagai halaman belakang rumah.
Namun, sejak berdirinya Departemen Eksplorasi Kelautan –sekarang jadi DKP—pada 1999, membuka pemahaman kolektif tentang laut. Laut adalah ladang penghidupan yang belum digarap serius. Bangsa ini sadar bahwa ekonomi kelautan sampai saat ini dapat ditamsilkan sebagai raksasa tidur. Potensinya belum diolah menjadi perekonomian nasional yang dapat menyejahterakan rakyat.
Salah satu kekayaan laut itu adalah rumput laut yang cadangannya sangat besar dan beraneka ragam serta dapat dimanfaatkan dengan biaya yang relatif murah. Jika kita membudidayakan potensi ini dengan baik bukan sekadar aset lokal namun juga dapat dirasakan manfaatnya secara nasional.
Lebih jauh lagi, rumput laut bukan sekadar memiliki nilai keuntungan tinggi tetapi juga menyelamatkan lingkungan. Umumnya rumput laut digunakan sebagai bahan makanan dan minuman. Namun, seiring dengan berkembangnya IPTEK dewasa ini, rumput laut dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam industri, misalnya tekstil, kosmetik, industri kefarmasian, kosmetik, tekstil, dan lain sebagainya.
Dari segi market, kebutuhan pasar global dari waktu ke waktu terus meningkat seperti Taiwan, Chili, Amerika Serikat, dan lainnya. Selain kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri juga cukup penting.
Dari sudut lain, rumput laut tidaklah terlalu rumit karena budidayanya tidak banyak menuntut tingkat keterampilan tinggi dan modal yang besar. Dengan begitu, semua anggota keluarga termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak, dapat melakukannya.
Sementara dari sisi masa panen atau produksinya relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan budidaya laut yang lain seperti bandeng, udang, dan kerang. Ditinjau dari sisi lahan, usaha budidaya rumput laut tidak banyak kendala. Karenanya, budidaya dapat dilakukan di hampir seluruh perairan laut Nusantara. Tidak butuh teknologi canggih, mudah, efisien serta ekonomis.
Sebenarnya ada banyak jenis rumput yang bisa dibudidayakan. Namun, dari sekian jenis rumput laut, jenis “algae merah” lebih banyak dibudidayakan dibandingkan rumput laut jenis “algae hijau” dan “algae coklat”. Secara umum ketiga jenis rumput laut di atas memiliki fungsi yang sama dalam dunia industri, yaitu sebagai bahan pengental, pensuspensi, penstabil, dan pengemulsi.
Rumput laut jenis algae merah (rhodophyta) biasanya dijadikan bahan untuk membuat agar gracilaria sp. Alga merah memiliki nama daerah yang bermacam-macam, seperti sango-sango, rambu kasang, janggut dayung, dongi-dongi, bulung embulung, agar-agar karang, agar-agar jahe, bulung sangu dan lain-lain.
Rumput laut gracilaria banyak jenis, yang masing-masing memiliki sifat-sifat morfologi dan anatomi yang berbeda serta dengan nama ilmiah yang berbeda pula, seperti gracilaria confervoides, gracilaria gigas, gracilaria verucosa, gracilaria lichenoides, gracilaria crasa, gracilaria blodgettii, gracilaria arcuata, gracilaria taenioides, gracilaria eucheumoides, dan banyak lagi. Beberapa ahli menduga bahwa rumput laut gracilaria memiliki jenis yang paling banyak dibandingkan dengan marga lainnya.
Rumput laut gracilaria umumnya mengandung agar ager atau disebut juga agar-agar sebagai hasil metabolisme primernya. Agar-agar diperoleh dengan melakukan ekstraksi rumput laut pada suasana asam setelah diberi perlakuan basah serta diproduksi dan dipasarkan dalam berbagai bentuk, yaitu: agar-agar tepung, agar-agar kertas dan agar-agar batangan dan diolah menjadi berbagai bentuk penganan (kue), seperti pudding dan jeli atau dijadikan bahan tambahan dalam industri farmasi. Kandungan serat agar-agar relatif tinggi, karena itu dikonsumsi pula sebagai makanan diet. Melalui proses tertentu agar-agar diproduksi pula untuk kegunaan di laboratorium sebagai media kultur bakteri atau kultur jaringan.
Sejak beberapa abad lalu, nenek moyang kita telah memanfaatkan gracilaria sebagai makanan. Baik dimasak dengan air kelapa atau dengan air santan dan gula, rumput laut dibuat penganan atau dimasak oseng-oseng atau tumis. Di beberapa daerah pesisir di wilayah Nusantara ini, gracilaria diyakini dapat dimakan sebagai pencegah GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). Hal ini semakin jelas dari beberapa hasil penelitian, ternyata beberapa jenis gracilaria banyak mengandung Iodium.
Bahkan belakangan rumput laut mulai digunakan sebagai sumber energi alternatif. Rumput laut digunakan sebagai biodisel dinilai lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya karena 1 ha lahan rumput laut dapat menghasilkan 58.700 liter (30% minyak) per tahunnya atau jauh lebih besar dibandingkan jagung (172 liter/tahun) dan kelapa sawit (5.900 liter/tahun).
Selain itu, rumput laut juga tidak dihadapkan pada masalah baru pada saat didorong sebagai sumber energi karena rumput laut tidak dikonsumsi setiap hari, dan budidayanya tidak memerlukan waktu yang lama.
Hal lain adalah yang ramah lingkungan. Sebagaimana biasanya, budidaya pasti mensyaratkan lokasi yang bebas dari polusi dan pencemaran air. Selama masa pemeliharaan sampai dengan masa panen, rumput laut tidak diberikan pakan karena makanan dan nutrisi dari yang tersedia di perairan laut. Dengan demikian budidaya rumput laut ini tidak mencemari dan merusak lingkungan sekitar.
Dengan adanya aktivitas budidaya tentunya banyak keuntungan yang bisa didapatkan di antaranya berkurangnya jumlah pengangguran, meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD), persaingan usaha semakin ketat sehingga roda perekonomian akan terus berjalan dan terciptanya iklim usaha yang kondusif dan pada akhirnya akan tercipta kesejahteraan hidup masyarakat.
(Yanto Bashri)











Bagi murid sekolah, sarapan pagi sangat penting karena bisa mempengaruhi prestasi belajar. Menurut penelitian, murid yang tak pernah lupa sarapan saat mau berangkat sekolah prestasinya lebih tinggi dibandingkan yang tidak sarapan.

Seks itu idealnya spontan, namun kadang jadwalnya perlu disesuaikan dengan siklus masa subur khususnya saat sedang menginginkan kehamilan. Yang penting tidak usah terlalu kaku, sebab disiplin yang belebihan malah bisa bikin impoten.
Karena bersin-bersin cuma dianggap sepele, banyak orang tetap nekat mengendarai mobil atau motor saat mengalaminya. Polisi Inggris tidak mau ambil risiko, pengendara mobil atau motor yang kedapatan bersin-bersin bisa dikenai tilang.
Semakin meluasnya jenis orientasi seksual mendorong perlunya memiliki "gaydar" (gay radar). Gaydar adalah istilah yang dipakai luas untuk kemampuan menilai orientasi seksual orang lain dengan cepat. Bahkan beberapa orang memang benar-benar memiliki kemampuan unik ini.
Berbagai penelitian tentang hubungan antara pola makan dan kegemukan lebih banyak menyoroti porsi dan jumlah kalori. Padahal menurut penelitian terbaru, risiko kegemukan sangat dipengaruhi juga oleh teratur tidaknya jadwal makan.