Ternyata tidak hanya manusia yang berpindah tempat, burung-burung pun melakukan ‘wisata’ ke Indonesia atau yang dikenal migrasi. Ada 2 arah migrasi burung, yaitu dari dari daerah utara (Rusia, Jepang, China) ke selatan (Indonesia, Filipina) dan dari selatan (Australia) ke utara (Indonesia, Filipina). Tetapi jalur selatan ini jumlahnya sedikit dan masih jarang penelitian dan pengamatan burung yang melaporkan jalur migrasi dari selatan ini.
Jalur utara, biasanya dimulai bulan Oktober atau Nopember, seiring datangnya musim dingin di belahan utara. Burung-burung ini secara berkelompok terbang menuju daerah khatulistiwa, dan nanti akan kembali ke daerah asalnya sekitar bulan Maret.
Sebenarnya ada 3 jenis migrasi burung. Pertama migrasi menyeluruh, yaitu lebih dari 90% populasi burung di daerah tersebut melakukan migrasi. Migrasi sebagian adalah burung-burung yang melakukan migrasi, tetapi populasi di bawah 90%. Dan migrasi lokal, yaitu burung-burung yang bermigrasi karena keadaan habitatnya, berpindah ke habitat lain. Pada artikel ini, kita akan membahas migrasi menyeluruh yang biasa dilakukan dari jalur utara.
Umumnya burung yang bermigrasi adalah jenis raptor atau burung pemangsa. Indonesia adalah kawasan favorit dari burung-burung ini. Tercatat 39 jenis burung pemangsa yang sering berkunjung ke Indonesia. Di antaranya elang rawa kelabu (Circus cyaneus) , elang rawa katak (Circus aeruginosus), elang kecil (Hieraaetus morphnoides), sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), elang kelabu (Butastur indicus), dll.
Ada 2 jalur dari utara yang biasa digunakan burung-burung ini, pertama koridor daratan timur, yang dimulai dari daratan Rusia menyusuri pinggiran benua Asia, melewati negara China, Vietnam, Thailand, Malaysia hingga sampai di Indonesia.Koridor ini panjangnya kurang lebih 7.000-an km . Jalur kedua adalah koridor pasifik, yang dimulai dari Rusia mereka menyusuri kepulauan Jepang, Taiwan, Filipina dan berakhir di Indonesia yang jauhnya mencapai 5.000-an km.
Ada lebih dari 1 juta burung pemangsa yang menggunakan Koridor Daratan Timur. Ada 33 jenis burung di jalur ini, di antaranya sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), elang kelabu (Butastur indicus), elang alap nipon (Accipiter gularis). Sementara di Koridor Pasifik ada 19 jenis yang bermigrasi. Jumlahnya diperkirakan 500.000 ekor, di antaranya elang kelabu dan elang alap cina (Accipiter soloensis).
Koridor Pasifik lebih banyak melewati permukaan air, sehingga dibutuhkan tenaga lebih bagi burung-burung yang melintasi. Umumnya burung yang melintasi koridor ini mempunyai sayap yang panjang dan ujungnya meruncing, seperti elang kelabu. Dengan sayap seperti ini, elang kelabu mampu bergerak mengepakkan sayap dengan tenaga sendiri, selain memanfaatkan soaring . Sementara sikep madu asia yang sayapnya lebih pendek dan ujungnya membulat, menggunakan Koridor Daratan Timur, memanfaatkan soaring atau energi matahari.
Burung-burung pemangsa yang bermigrasi, demi menghemat tenaga, memanfaatkan energi matahari. Caranya, di pagi hari mereka sudah bersiap-siap di ujung dahan pohon yang tinggi. Ketika hari makin siang, udara makin panas, maka akan muncul gejala thermal (udara yang bergerak ke atas karena panas). Burung-burung inipun melakukan soaring atau terbang berputar ke atas, setinggi mungkin mengikuti thermal.Selanjutnya kawanan burung inipun akan meluncur/melayang sejauh mungkin. Ketika sudah rendah, mereka akan terbang ke atas kembali melakukan soaring dan seterusnya. Malam hari pun mereka beristirahat menunggu matahari esok pagi.
Teknik ini membuat burung-burung ini hemat tenaga dan membutuhkan waktu beberapa hari. Contoh sikep madu asia yang diperkirakan menempuh jarak migrasi 11.686 km yang ditempuh dalam 68 hari. Berarti dalam sehari kurang lebih sikep madu asia ini menempuh 170-an km. Luar biasa!
Setelah sampai di Indonesia, mereka menyebar ke banyak tempat, seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan maupun Sunda Kecil (Lombok, Bali, dll). Beberapa burung migran ini bisa kita saksikan di Jakarta, seperti di pulau Rambut Kepulauan Seribu dan kawasan Kebun Binatang Ragunan.
Burung-burung ini akan tetap berkunjung ke Indonesia, sejauh alamnya masih terjaga asri. Bila alam Indonesia sudah berubah, mungkin mereka akan berpindah ke tempat ‘wisata’ lain. Mari kita selalu sambut dengan ramah ‘tamu-tamu’ ini dengan menjaga keasrian alam!
(Bayu Wardhana)
(disadur dari majalah Burung, edisi Januari 2007 dan buku Alam Jakarta, 2008)











Ribet atau susah dipakai sering menjadi alasan pria malas menggunakan kondom. Untuk itu, seorang desainer Afrika Selatan membuat penemuan cerdik, yaitu kondom baru yang hanya butuh waktu 3 detik untuk memasangnya.

Ada berbagai tempat yang bisa jadi alternatif pasangan untuk berhubungan seks, salah satunya di dalam air atau kolam renang. Namun ada anggapan bercinta di dalam air tidak menyebabkan kehamilan. Benarkah?
Bagi laki-laki, hidup di daerah tropis memberi banyak manfaat, terutama dalam kehidupan seksualnya. Penelitian menemukan bahwa paparan sinar matahari berakibat positif bagi hasrat seksual laki-laki.
Minuman bersoda berbahaya bukan saja karena kandungan gulanya yang tinggi dan bisa memicu diabetes. Soda juga bisa mengancam paru-paru sehingga rentan asma dan batuk kronis.
Terapi perilaku kognitif merupakan terapi andalan untuk mengobati gangguan kecemasan. Namun efek terapi tersebut bahkan tidak mempan ketika diterapkan pada lansia.

