biruvoice.com - Menambah Wawasan, Menghadirkan Keindahan

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Hot Update

Statement BIRU Voice sekitar 2 bulan yang lalu tentang pencemaran di celah Timor akibat kebocoran ladang minyak Montara, baru sekarang ditanggapi Preisden SBY. BIRU Voice mengharapkan pemerintah dapat membentuk Tim Independen yang tidak terkendala oleh birokrasi dan kepentingan politik, melainkan sungguh-sungguh dapat melakukan investigasi dan langkah-langkah yang cepat untuk membantu rakyat yang terkena akibat secara langsung.

 

Berita terkait:

Coelacanth - Ikan Purba

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 2
JelekBagus 

IKAN RAJA LAUT DARI JUTAAN TAHUN LALU

Sebuah species ikan yang diduga sudah punah 65 juta tahun yang lalu, ternyata masih hidup di perairan Indonesia. Ikan ini ditemukan di perairan Manado. Sebenarnya penduduk lokal sudah lama mengenal ikan ini dengan sebutan ikan raja laut. Dan ternyata ikan ini mempunyai nama ilmiah Coelacanth, yang tadinya dianggap sudah punah lama.
Penemuan ikan purba ini sebenarnya sudah pernah dilaporkan pada tahun 1938. Tidak di perairan Manado, tetapi di laut timur pantai Afrika Selatan. Seorang pelaut yang menemukan ikan aneh ini, lalu mengirimnya ke London untuk diteliti. Seorang kurator museum di East London, Marjorie Courtenay Latimer menyerahkan temuan ikan tersebut kepada ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof. J.L.B. Smith. Maka nama ikan purba ini diberi nama Latimeria chalumnae smith.

Beberapa tahun kemudian, ikan-ikan ini banyak ditemukan di kepulauan Komoro, Samudera Hindia bagian barat. Laporan lain menunjukkan ikan ini juga hidup di perairan Mozambique dan Madagaskar. Namun populasi terbanyak diperkirakan berada di perairan Kepulauan Komoro ini. Sehingga ikan ini pun dikenal dengan nama Coelacanth Komoro.

Pada tahun 1998, di perairan Pulau Manado Tua, nelayan setempat menangkap ikan Raja Laut. Ikan ini diserahkan pada seorang peneliti Amerika yang berada di Manado, Mark Erdmann. Bersama-sama koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI, mereka menuliskan di jurnal Nature, bahwa ikan Raja Laut ini adalah spesies Coelacanth, yang juga ditemukan di Kepulauan Komoro. Hal ini cukup mengagetkan dunia ilmu pengetahuan, mengingat jarak antara Kepulauan Komoro dan pulau Manado Tua cukup jauh (lebih dari 10.000 km).

Secara fisik ada perbedaan, warna ikan yang ditemukan di perairan Manado berwarna coklat. Sementara Coelacanth Komoro berwarna biru baja. Setelah lewat serangkaian tes, ditemukan bahwa ikan Raja Laut dari Manado ini bisa dikategorikan sebagai spesies yang berbeda dengan saudaranya yang di Kepulauan Komoro. Maka ikan Raja Laut ini pun diberi nama ilmiah Latimeria menadoensis, atau juga dikenal sebagai Coelacanth Sulawesi.

 



Coelecanth sejak tahun 1980 telah masuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang menyatakan ikan ini tidak boleh diperdagangkan antar negara.

Kata Coelacanth berasal dari kata-kata Yunani; coelia (berongga) dan acanthus (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga. Berbeda dengan jenis ikan pada umumnya, Coelacanth memiliki "rostral organ" pada bagian pernapasan sebagai sistem electrosensory, dan engsel pada tengkorak yang memudahkan bagian depan tempurung kepala untuk bergerak lebih cepat, sehingga juga memperluas terbukanya mulut saat bernapas. Karakter ini tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Keunikan lain termasuk lubang pengisi cairan "notocord" (yang biasa dimiliki oleh vertebrata primitif), hal ini memperkuat tulang belakang dan panjangnya tubuh.

Diduga, ikan Coelancanth ini masih mungkin ditemukan di perairan lain, selain di Kepulauan Komoro, perairan Manado, maupun populasi kecil di perairan Mozambique, Madagaskar, dan Afrika Selatan. Mereka ini umumnya hidup di kedalaman laut , paling tidak 150-700 meter. Namun di Manado, pernah dilaporkan ikan Raja Laut ini berenang di permukaan. Dan pada bulan Mei 2007, dua orang nelayan menangkap kembali ikan Coelacanth ini, seberat 51 kg ketika ditangkap. Dan ikan tersebut diawetkan untuk keperluan penelitian.

Kalau ingin menyaksikan bagaimana wujud ikan purba ini, kita dapat menyaksikannya di Taman Impian Ancol, khususnya di SeaWorld. Di sini dipajang ikan ini (Latimeria menadoensis ) yang sudah dikeringkan/diawetkan.

Sumber :
Wikipedia.com
Tempointeraktif.com
wwf.or.id
(Bayu Wardhana)

Comments  

 
-1 #6 imoet 2010-10-08 17:37
subhanallah....
bgitu indah kekuasaan ALLAH..
Quote
 
 
0 #5 kerreh 2010-10-05 06:48
oometwoah tik jek omor 65 jt taon
Quote
 
 
0 #4 Budi Asih 2010-02-14 10:12
Quoting wesks:
itu ikan purba tapi itu kan ngak terlalu lama di temukan / sudah sering kita liat ikan purba yg pertama sangat kecil


Ada artikelnya ngga mas buat referensi??
Quote
 
 
0 #3 wesks 2010-02-08 16:40
itu ikan purba tapi itu kan ngak terlalu lama di temukan / sudah sering kita liat ikan purba yg pertama sangat kecil
Quote
 
 
0 #2 Redaksi Biruvoice 2010-01-31 10:05
Quoting Laut Biru:
Ikannya kok kaya batu ya??
bener2 langka tuh...keliatan banget ikan purbanya

iya imang langka mas...saya juga suka liat bentuk ikan itu
Quote
 
 
+1 #1 Laut Biru 2010-01-31 10:02
Ikannya kok kaya batu ya??
bener2 langka tuh...keliatan banget ikan purbanya
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Artikel Arsip Artikel

Copyright © 2007-2010 www.biruvoice.com. All Right Reserved. Designed by Nur Cholikul Anwar.